Seseorang akan menghadapi persoalan jika diantara
unsur-unsur dalam gambaran terhadap diri sendiri timbul konflik dan
pertentangan, lebih-lebih antara siapa saya ini sebenarnya (real self) dan saya
seharusnya menjadi orang yang bagaimana (ideal self). Berbagai pengalaman hidup
menyadarkan orang akan keadaan dirinya yang tidak selaras itu, kalau
keseluruhan pengalaman nyata itu sungguh diakui dan tidak di sangkal. Berikut
ini ada contoh kasus yang biasa ditangani oleh pendekatan Person-centered.
Misalnya, seorang mahasiswi mengira bahwa dia adalah seorang mahasiswi yang
pintar dan tidak pernah menyontek, tetapi pada suatu saat dia mulai sadar akan
tingkah lakunya yang bertentangan dengan fikiran itu, karena ternyata dia
berkali-kali mencoba menyontek dan jarang mengerjakan tugas-tugas kuliah.
Padahal, seharusnya sebagai mahasiswa ia tidak boleh bertindak begitu.
Pengalaman yang nyata ini menunjuk pada suatu pertentangan antara siapa saya
ini sebenarnya dan seharusnya menjadi orang yang bagaimana. Bilamana mahasiswi
mulai menyadari kesenjangan dan mengakui pertentangan itu, dia menghadapi
keadaan dirinya sebagaimana adanya. Kesadaran yang masih samar-samar akan
kesenjangan itu menggejala dalam perasaan kurang tenang dan cemas serta dalam
evaluasi diri sebagai orang yang tidak pantas (worthless). Mahasiswi ini siap
untuk menerima layanan konseling dan menjalani proses konseling untuk menutup
jurang pemisah antara dua kutub di dalam dirinya sendiri, serta akhirnya
menemukan dirinya kembali sebagai orang yang pantas (person of worth).
Sabtu, 16 April 2016
Terapi Humanistik Eksistensialis
·
Terapi Humanistik Eksistensialis
1. Konsep
dasar pandangan humanistik eksistensi tentang perilaku/kepribadian.
Terapi-terapi psikodinamik, cenderung
memusatkan perhatian pada proses- proses tak sadar, seperti konflik-konflik
yang terletak di luar kesadaran. Sebaliknya, terapi-terapi humanistik eksistensial
memusatkan perhatian pada pengalaman- pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistik
eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada
masa sekarang dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga kesamaan – kesamaan antara
terapi- terapi psiko psikodinamik dab terapi-terapi humanidtik-estensial, yakni
kedua-duanya mebekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman
masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu
sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan
kesadaran diri pasien
2. Unsur-unsur
terapi
A. Tujuan-tujuan terapi
Humanistik-Eksistensial terdapat tiga karakterisitik dari keberadaan otentik:
a.
menyadari
sepenuhnya keadaan sekarang
b.
memilih
bagaimana hidup pada saat sekarang
c.
memikul
tangung jawab untuk memilih.
Pada dasarnya tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan
kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni
menjadi bebas dan tanggung jawab atas arah hidupnya. Penerimaan tanggung jawab
itu bukan suatu hal yang mudah, banyak orang yang takut akan beratnya
bertanggung jawab atas menjadi apa dia sekarang dan akan menjadi apa dia
selanjutnya. Terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien agar mampu
menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima
kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan
deterministik di luar dirinya.
B.
Fungsi dan peran terapis
Menurut Buhler dan Allen (1972),
para ahli psikologi humanisik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal
berikut:
a.
mengakui pentingnya pendekatan dari
pribadi ke pribadi
b.
menyadari peran dari tanggung jawab
terapis
c.
mengakui sifat timbal balik dari
hubungan terapeutik
d.
berorientasi pada pertumbuhan
e.
menekankan keharusan terapis terlibat
dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh
f.
mengakui bahwa putusan-putusan dan
pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
g.
memandang terapis sebagai model dalam
arti bahwa terapi dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia
bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan
positif
h. mengakui kebebasan klien untuk
mengungkapkan pandangan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
i. bekerja ke arah mengurangi
kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
3. Teknik-teknik
terapi
Teori eksistensial-hunianistik
tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur
konseling bisa diambil dari beberapa teori konseling lainnya. Metode-metode
yang berasal dari teori Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan,
dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam
teori eksistensial-humanistik. Buku The Search for “Authenticity (1965) dari
Bugental adalah sebuah karya lengkap yang mengemukakan konsep-konsep dan
prosedur-prosedur psikokonseling eksistensial yang berlandaskan model
psikoanalitik. Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah
memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai
padapemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien
pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh darisituasi masa
lalu (May &Yalom, 1989).
Teknik-teknik yang digunakan dalam
konseling eksistensial-humanistik,yaitu:
a.
Penerimaan
b.
Rasa hormat
c.
Memahami
d.
Menentramkan
e.
Memberi dorongan
f.
Pertanyaan terbatas
g.
Memantulkan pernyataan dan perasaan
klien
h.
Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut
mersakan apa yang dirasakan klien
i.
Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang
bermakna
·
Person Centered Therapy (Rogers)
1. Konsep
dasar pandangan Carl Rogers tentang perilaku/kepribadian
Terapi ini disebut juga
client-centered therapy (terapi yang berpusat pada pasien) atau terapi
nondirektif. Teknik ini pasa awalnya dipakai oleh Carl Rogers (1902-1987) pada
tahun 1942. Sejak itu banyak prinsip Rogers yang dipakai dalam terapi diterima
secara luas. Tetapi, tekbik jni dipakai secara lebih terbatas pada terapi
mahasiswa dan orang-orang dewasa muda lain yang mengalami masalah-masalah
penyesuaian diri yang sederhana. Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang
memiliki kecenderungan dasar yang mendoring mereka ke arah pertumbuhan dan
pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers, gangguan-gangguan psikologis pada
umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan
menuju kepada aktualisasi diri.
2. Unsur-unsur
terapi
a.
Self-concept (konsep diri) mengenai konsepsi
seseorang tentang dirinya
b.
Ideal-self (diri ideal) mengenai
self-concept yang ingin dimiliki seseorang (seseorang ingin menjadi apa?)
c.
Ketidakselarasan (incongruence) antara
diri dan pengalaman, yaitu sesuatu celah yang ada antara self-concept seseorang
dan apa yang dialaminya.
d.
Ketidakmampuan menyesuaikan diri secara
psikologis, hal ini terjadi bila seseorang menyangkal atau mendistorsikan
pengalaman-pengalamannya yang penting.
e.
Keselarasan antara diri dan pengalaman, yaitu
konsep seseorang tentang dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dialaminya
f.
Kebutuhan akan penghargaan positif (need
for positive regard), yaitu kebutuhan untuk dihargai dan dihormati orang lain
g.
Kebutuhan akan harga diri (need for self
regard), yaitu kebutuhan untuk menghargai diri sendiri
3. Teknik-teknik
terapi
Teori belakangan ini tidak
berbicara mengenai teknik-teknik nondirektif yang sering dibicarakan dalam
literatur terdahulu. Dalam menemukan cara-cara untuk melaksanakan orientasi
dasar terapis terhadap pasien, tulisan-tulisan awal menekankan teknik-teknik,
seperti menyusun wawancara, diam, menerima dan merefleksikan perasaan-perasaan
serta tidak mengadakan respons terhadap isi intelektual. Teknik-teknik terapi
lama-kelamaan kurang menekankan sikap-sikap yang memudahkan hubungan pribadi. Beberapa
terapis dengan pemahaman yang dangkal terhadap terapi client-centered tidak
memahami perubahan penekanan ini. Sering kali mereka menggunakan apa yang
disebut teknik-teknik nondirektif untuk menggunakan sikap-sikap yang sangat
berbeda dari apa yang dianjurkan oleh teori. Tentu saja terapis person-centered
masih menggunakan beberapa teknik (refleksi perasaan-perasaan yang dialami
pasien), tetapi dia tidak merasa terikat oleh teknik-teknik tersebut dan dia juga
tidak menggunakan teknik-teknik tersebut secara terencana dan hati-hati pada
waktu melaksanakan wawancara. Rumusan-rumusan yang lebih awal dari pandangan
Rogers tentang psikoterapi memberi penekanan yang lebih besar pada
teknik-teknik. Kemudian karena pendekatan person-centered berkembang, maka
terjadi peralihan dari penekanan pada teknik-teknik terapeutik ke penekanan
pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap terapis, serta pada hubungan
terapeutik. Hubungan terapeutik selanjutnya menjadi variabel yang sangat
penting, dan hubungan terapeutik ini tidak identik dengan apa yang dikatakan
atau dilakukaan terapis.
·
Logoterapi (Frankl)
1. Konsep
dasar pandangan Frankl tentang perilaku kepribadian
Logoterapi adalah sebuah teori yang
berorientasi untuk menemukan arti, suatu arti dalan dan bagi eksistensi
manusia. Disini yang penting adalah menerima tanggung jawab dan berusaha menemukan
arti/nilai di balik kehidupan
2. Unsur-unsur
terapi
a.
Freedom of Will (bebas dari kemauan).
Kebebasan yang dimaksud ini adalah suatu kebebasan untuk tetap berdiri/tegak
apapun kondisi yang dialami manusia. Bebas dari kemauan bukan berarti bebas
dari kondisi-kondisi biologis, fisik, sosiologis dan psikologis. Tapi lebih
merupakan bebas untuk mengambil sikap bukan hanya m
b.
Will to meaning, yaitu suatu kemauan
untuk menemukan arti hidupnya. Will to meaning ini suatu dorongan kemauan dasar
yang berjuang untuk mencapai arti hidup yang lebih tinggi untuk eksis di dunia ini.
c.
The meaning of life yaitu arti hidup
bagi seorang manusia. Arti hidup yang diartikan disini adalah arti hidup yang
bukan untuk dipertanyakan, tetapi untum direspons, karena kita semua
bertanggung jawab untuk suatu hidup. Respons yang diberikan bukan dalam bentuk
kata-kata tapi dalam bentuk tindakan, dengan melakukannya
3. Teknik-teknik
terapi
Frankl dengan logoterapinya tidak
hanya menyumbang teori, tetapi juga teknik-teknik terapi yang khusus kepada
dunia psikoterapi. Teknik-teknik logoterapi yang terkenal adalah intensi paradoksikal,
derefleksi dan bimbingan rohani.
intensi
paradoksikal yaitu tingkah laku individu tidak hanya
diubah tetapi juga mengacu pada kapasitas individu untuk melepaskan dirinya
dari dunia dan dari dirinya sendiri
Derefleksi
yaitu pasien tidak hanya dianjurkan untuk mengabaikan simtom-simtom yang
dialaminya tetapi juga dianjurkan supaya mengarahkan kesadaran atau
perhatiannya pada aspek-aspek yang positif.
Bimbingan
rohani yaitu teknik terapi yang secara khusus digunakan
untuk menangani kasus dimana individu tidak mampu lagi berbuat sesuati selain
hanya menghadapi kesulitan atau penderitaan yang dialaminya. Dalam menghadapi
kesulitan atau penderitaan, individu akan menemukan makna dengan merealisasikan
nilai bersikap
Sumber :
Sumber :
Semiun,
Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius
Naisaban,
Ladislaus. (2004). Para psikolog terkemuka dunia: riwayat hidup, pokok pikiran
& karya. Jakarta: Grasindo.
Selasa, 22 Maret 2016
Cotoh Kasus Terapi Psikoanalisa Menggunakan Teknik Asosiasi bebas
Klien seorang perempuan, 26 tahun dengan gangguan skizofrenia paranoid dan diterapi menggunakan pendekatan psikoanalisis dan teknik yang digunakan adalah teknik asosiasi bebas.
Pada sesi I ini terapis dan klien membangun komunikasi yang nyaman dan membangun kepercayaan. Setelah terbentuknya rasa kepercayaan dan dukungan yang lebih besar, terapis mulai mendorong klien untuk mengkaji berbagai hubungan Interpersonalnya. Kemudian klien diminta untuk mengungkapkan apa saja (pikiran dan perasaan) yang terlintas dalam pikirannya saat itu tanpa ada hal-hal yang disensor (moment catarsis). Dan terapis membantu klien untuk menganalisa mengenai hal-hal yang dikatarsiskan. Setelah itu terapis membantu dan membimbing klien untuk bisa insigth. Setelah itu terus menerus menginterpretasikan dan mengidentifikasikan masalah klien. Kemudian berusaha mengajak klien merealisasikan hal-hal yang didapat dari insigth.
Pada sesi II yaitu teknik asosiasi bebas. Pada sesi ini Klien diminta untuk mengungkapkan apa saja (pikiran dan perasaan) yang terlintas dalam pikirannya saat ini tanpa ada hal yang disensor (katarsis). Terapi membantu klien menganalisa mengenai hal-hal yang dikatarsiskan, kemudian terapis membimbing klien untuk insight, dengan terus-menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien dan mkemudian mengajak klien merealisasikan hal yang didapatkan dari insight.
Psikoterapi dan Terapi Psikoanalisis
Nama : Natalia Indah Briliani
Kelas : 3PA14
NPM : 16513343
Psikoterapi
Kelas : 3PA14
NPM : 16513343
Psikoterapi
Pengertian
Psikoterapi
Psikoterapi merupakan salah satu
keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang psikiater. Psikoterapi adalah
kata yang meliputi setiap jenis terapi untuk pikiran, bukan untuk bagian tubuh
yang lain. Tetapi, ketika sebagian orang mengucapkan kata itu, biasaya yang mereka maksud adallah
terapi yang digunakan oleh para psikiatris dan psikolog, bukan hal-hal yang
lebih bersifat alternatif seperti misalnya terapi tertawa atau terapi musik.
Tujuan
Psikoterapi
Menurut
Ivey (dalam Gunarsa) tahun 1987 mengatakan
Tujuan psikoterapi adalah membuat sesuatu yang tidak saadar menjadi
suatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakuka terhadap kejadian-kejadian
yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang
lama. Di sisi lain Corey (dalam Gunarsa) tahun 1991, menjelaskan tujuan
psikoterapi dengan pendekatan analisis adalah untuk membantu klien dalam
menghidupkan kebali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui
konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual. Sedangkan menurut
Guze, Richeimer dan Siegel (1997) menyebutkan psikoterapi sebagai berikut:
1. Perawatan
akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
2. Rehabilitasi
(memperbaiki gangguan perilaku berat)
3. Pemeliharaan
(pencegahan keadaan memburuk jangka panjang)
4. Restrukturisasi
eningkatkan perubahan yang terus-menerus
pada klien)
Unsur-unsur
Psikoterapi
Menurut Masserman (dalam Guze,
Richeimer dan Siegel) ada tujuh “parameter pengaruh” yang mencakup
unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu:
- Peran sosial (martabat) psikoterapis
- Hubungan (persekutuan terapeutik)
- Hak
- Retrospreksi
- Re-edukasi
- Rehabilitasi
- Resosialisasi dan rekapitulasi
Unsur-unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk
masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.
Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
Brammer & Shostrom (dalam)
mengemukakan bahwa konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti: “educational, voational, supportive,
situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time dan short-term”.
Sedangkan psikoterapi ditandai oleh: “supportive
[dalam keadaan krisis], reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on
the past, neurotics and other severe emotional problems and long term”.
Di sisi lain
Pallone dan Patterson (dalam Gunarsa) membedaka Konseling dan Psikoterapi sbb:
Konseling untuk
|
Psikoterapi untuk
|
1.
Klien
|
1.
Pasien
|
2.
Gangguan yang kurang serius
|
2. Gangguan yang serius
|
3.
Masalah: jabatan, pendidikan
|
3. Masalah kepribadian & pengambilan keputusan
|
4.
Berhubungan dengan pencegahan
|
4. Berhubungan dengan penyembuhan
|
5.
Lingkungan pendidikan dan nonmedis
|
5. Lingkungan medis
|
6.
Berhubungan dengan kesadaran
|
6. Berhubungan dengan ketidak sadaran
|
7.
Metode pendidikan
|
7. Metode penyembuhan
|
Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illness
Pendekatan psikoterapi
terhadap mental illness menurut J.P. Chaplin, yaitu:
1.
Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2.
Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
3.
Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
4.
Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.
Psikoanalisis
Konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian
Dalam hubungan terapeutik, Sigmund Freud mengamati bahwa kata-kata yang
diucapkan oleh bayak pasiennya tidak logis, orientasinya mengenai waktu dan
tempat tidak tepat, serta ”tidak sebagaimana mestinya”. Jelas bagi Freu bahwa
isi pikiran tidak mungkin berasal dari kesadaran, tetapi harus berasal dari
tingkat-tingkat mental dibawah alam sadar. Ia menyimpulkan bahwa ada tiga macam
kegiatan mental: ketidaksadaran (alam tak sadar), keprasadaran (alam prasadar),
dan kesadaran (alam sadar). Dalam psikologi Freud, tiga tingkat kehidupan
mental digunakan untuk menunjukkan baik proses maupun tempat. Adanya tempat itu
hanya merupakan gagasan hipotesis dan dalam kenyataan tidak ada dalam tubuh.
Ketidaksadaran berupa
sikap-sikap, perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang ditekan, serta tidak
dapat dikontrol oleh kemauan, hanya dengan susah payah ditarik – kalau dapat –
ke alam sadar, tidak terikat oleh huku-hukum logika dan tidak dibatasi oleh
waktu dan tempat. Isi dari ketidaksadaran ini mengontrol pikiran dan perbuatan
sadar individu. Dari pandangan ini, psikologi yang membatasi diri pada analisis
kesadaran sama sekali tidak cocok untuk memahami motif-motif yang mendasari
tingkah laku manusia.
Unsur-unsur Terapi Psikoanalisis
1.
Muncul Gangguan
Psikoterapi berupaya untuk memunculkan penyebab
masalah atau gangguan itu muncul melalui intervensi yang ditinjau dari
lingkungan, kepribadian, faktor ekonomi, afeksi, komunikasi interpesonal dan
lain sebagainya. Dengan usaha lebih mengenal penyebab gangguan itu muncul klien
dapat memperkuat diri agar terhindar dari resiko yang tinggi dengan modifikasi
interaksi terhdap lingkungannya.
2.
Tujuan Terapi
Membentuk
kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak
disadari didalam diri klien Focus pada upaya mengalami kembali
pengalaman masa anak-anak.
3.
Peran Terapi
·
Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam
melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis
·
Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak
mendengar dan menafsirkan
·
Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan klien
·
Mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien
Teknik-teknik Terapi Psikoanalisis
1. Asosiasi Bebas
Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien
diminta melaporkan segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama
segala perasaan dan pikirannya. Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu
yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dan lain-lain,
walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan,
ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh
suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini
sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya
terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat,
yang selama ini ditekan pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai
katarsis.
2. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas,
mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya
terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan
mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh
mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan
terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk
mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar
lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak
terhalangi bahan tak sadar pada pihak klien.
3. Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan
yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area
masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan
mengistimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat,
kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan.
4. Analisis dan
penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek
psikoanalitik adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah
klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap
kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan
menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh
pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.
5. Analisis dan
penafsiran transferensi
Sama hal nya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi
psikoanalitik. Analisis transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab
mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi.
Transference adalah saat pasien mengembangkan reaksi emosional keterapis. Hal
ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang
dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference
apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative
transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.
Sumber
:
1. Setyonegoro,
Kusuanto. (2011). Memanusiakan manusia menata jiwa membangun bangsa. Jakarta:
PT Gramedia Pustaka Utama.
2. Morgan,
Nicola. (2014). Pandua mengatasi stres bagi remaja. Jakarta: Gemilang
3. Gunarsa,
G., Singgih. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
4. Guze,
Barry., Richeimer, Steven., dan Siegel, J, Daniel. (1997). Buku saku psikiatri.
Jakarta: EGC
5. Semiun,
Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta:
Kanisius
6. Freud,S.(2006), Teori Kepribadian Dan
Terapi Psikoanalitik Freud.Yogyakarta: Kanisius.
Senin, 28 Desember 2015
Psikologi Manajemen Tugas IV
v Komunikasi dalam Manajemen
1. Pengertian Komunikasi
Meurut Kozier dan Erb (dalam Nugroho,
2009) komunikasi adalah pertukaran informasi antar dua orang atau lebih, atau pertukaran
ide, perasaan, dan pikiran. Pendapat lain dikemukakan oleh Gode (dalam Wiryanto, 2004)
mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses yang membuat kebersamaan bagi dua
orang atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang. Trenholm dan
Jensen (dalam Wiryanto, 2004) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses
dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran.
Hoveland (dalam Wiryanto, 2004) mengatakan komunikasi adalah proses dimana individu
mentransmisikan stimulus untuk mengubah perilaku individu yang lain.
Dari definisi beberapa tokoh di atas,
dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua
orang atau lebih yang membuat kebersamaan bagi dua orang atau lebih yang semula
monopoli oleh satu atau beberapa orang dimana sumber mentransmisikan pesan kepada
penerima melalui beragam saluran untuk mengubah perilaku individu yang lain.
2. Proses Komunikasi
Wiryanto
mengemukakan bahwa proses komunikasi merupakan aktivitas mendasar bagi manusia
sebagai makhluk sosial. Setiap proses komunikasi diawali dengan adanya stimulus
yang masuk pada diri individu yang di tangkap melalui panca indera. Stimulus diolah
di otak dengan pengetahuan, pengalaman, selera dan iman yang dimiliki individu.
Stimulus tersebut mengalami proses intelektual menjadi informasi. Adapun informasi
yang telah dikomunikasikan disebut sebagai pesan.
3. Hambatan Komunikasi
Menurut
Robbins (dalam Haryadi, 2009) ada 4 hambatan komunikasi, yaitu :
a. Perbedaan
Bahasa dan Persepsi
Bahasa sangat penting dalam komunikasi, bahasa
bertujuan untuk menyamakan persepsi dan mentransfer informasi.
b. Gangguan
Komunikasi
Ada 2 macam gangguan komunikasi, yaitu:
1) Gangguan emosional, yaitu Pesan akan sulit
disamapaikan dalam keadaan kecewa, marah, atau takut. Hal ini lah yang
menyebabkan gagasan dan perasaan sering menyulitkan dalam bersikap objektif.
2) Gangguan
fisik, yaitu hubungan yang buruk, akustik yang jelek, dan tulisan yang tidak
dapat dibaca. Walaupun gangguan ini terlihat sepele namun dapat menghambat
pesan yang sebenarnya efektif.
c. Overload Informasi
Yaitu hambatan yang ada karena terlalu banyak
informasi yang didapat, komunikasi dapat terganggu karena materi dari informasi
tersebut sangat rumit dan controversial.
d. Penyaringan
Informasi yang tidak Tepat
Menyaring informasi dapat mempengaruhi jumlah
dan mutu informasi yang diteruskan, dan tentunya akan memengaruhi komunikasi
efektif yang di harapkan.
v Definisi Komunikasi Intrapersonal Efektif dalam
Organisasi yang Mencakup Componential dan Situasional
1.
Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan
mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan
oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya
dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2.
Situasional
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan
potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.
v Model Pengolahan Informasi
1.
Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi
dalam mode pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis
2.
Limited
Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang
menyederhanakan pengolahan informasi
3.
Expert
Model ini bergantung pada model Limited
Capacity
4.
Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses
dari waktu ke waktu.
v Model Interaktif Manajemen
1.
Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi
karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi
bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2.
Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu
organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3.
Interaction
management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen
seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang
bersangkutan
4.
Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu
organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5.
Other-orientation
Dalam hal ini suatu manajemen organisasi
berorientasi pada pegawai.
Sumber:
Haris, T, E. (2002). Applied organizational communication.
New York: Psychology Press
Haryadi, H. (2009). Administrasi perkantoran untuk manajer &
staff. Jakarta: Transmedia Pustaka
Nugroho, W. (2009). Komunikasi dalam keperawatan gerontik.
Jakarta: EGC.
Suranto. (2011). Komunikasi interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu
Wiryanto. (2004). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Grasindo.
Langganan:
Postingan (Atom)