Sabtu, 16 April 2016

Contoh Kasus Person Centered Therapy (Rogers)

Seseorang akan menghadapi persoalan jika diantara unsur-unsur dalam gambaran terhadap diri sendiri timbul konflik dan pertentangan, lebih-lebih antara siapa saya ini sebenarnya (real self) dan saya seharusnya menjadi orang yang bagaimana (ideal self). Berbagai pengalaman hidup menyadarkan orang akan keadaan dirinya yang tidak selaras itu, kalau keseluruhan pengalaman nyata itu sungguh diakui dan tidak di sangkal. Berikut ini ada contoh kasus yang biasa ditangani oleh pendekatan Person-centered. Misalnya, seorang mahasiswi mengira bahwa dia adalah seorang mahasiswi yang pintar dan tidak pernah menyontek, tetapi pada suatu saat dia mulai sadar akan tingkah lakunya yang bertentangan dengan fikiran itu, karena ternyata dia berkali-kali mencoba menyontek dan jarang mengerjakan tugas-tugas kuliah. Padahal, seharusnya sebagai mahasiswa ia tidak boleh bertindak begitu. Pengalaman yang nyata ini menunjuk pada suatu pertentangan antara siapa saya ini sebenarnya dan seharusnya menjadi orang yang bagaimana. Bilamana mahasiswi mulai menyadari kesenjangan dan mengakui pertentangan itu, dia menghadapi keadaan dirinya sebagaimana adanya. Kesadaran yang masih samar-samar akan kesenjangan itu menggejala dalam perasaan kurang tenang dan cemas serta dalam evaluasi diri sebagai orang yang tidak pantas (worthless). Mahasiswi ini siap untuk menerima layanan konseling dan menjalani proses konseling untuk menutup jurang pemisah antara dua kutub di dalam dirinya sendiri, serta akhirnya menemukan dirinya kembali sebagai orang yang pantas (person of worth).

Terapi Humanistik Eksistensialis

·         Terapi Humanistik Eksistensialis

      1.      Konsep dasar pandangan humanistik eksistensi tentang perilaku/kepribadian.

Terapi-terapi psikodinamik, cenderung memusatkan perhatian pada proses- proses tak sadar, seperti konflik-konflik yang terletak di luar kesadaran. Sebaliknya, terapi-terapi humanistik eksistensial memusatkan perhatian pada pengalaman- pengalaman sadar. Terapi-terapi humanistik eksistensial juga lebih memusatkan perhatian pada apa yang dialami pasien pada masa sekarang dan bukan pada masa lampau. Tetapi ada juga kesamaan – kesamaan antara terapi- terapi psiko psikodinamik dab terapi-terapi humanidtik-estensial, yakni kedua-duanya mebekankan bahwa peristiwa-peristiwa dan pengalaman-pengalaman masa lampau dapat mempengaruhi tingkah laku dan perasaan-perasaan individu sekarang, dan kedua-duanya juga berusaha memperluas pemahaman diri dan kesadaran diri pasien

       2.      Unsur-unsur terapi

A.    Tujuan-tujuan terapi Humanistik-Eksistensial terdapat tiga karakterisitik dari keberadaan otentik:
a.       menyadari sepenuhnya keadaan sekarang
b.      memilih bagaimana hidup pada saat sekarang
c.       memikul tangung jawab untuk memilih.

Pada dasarnya tujuan terapi eksistensial adalah meluaskan kesadaran diri klien, dan karenanya meningkatkan kesanggupan pilihannya, yakni menjadi bebas dan tanggung jawab atas arah hidupnya. Penerimaan tanggung jawab itu bukan suatu hal yang mudah, banyak orang yang takut akan beratnya bertanggung jawab atas menjadi apa dia sekarang dan akan menjadi apa dia selanjutnya. Terapi eksistensial juga bertujuan membantu klien agar mampu menghadapi kecemasan sehubungan dengan tindakan memilih diri, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lebih dari sekedar korban kekuatan-kekuatan deterministik di luar dirinya.

B.     Fungsi dan peran terapis
Menurut Buhler dan Allen (1972), para ahli psikologi humanisik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
a.       mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi
b.      menyadari peran dari tanggung jawab terapis
c.       mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik
d.      berorientasi pada pertumbuhan
e.       menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh
f.       mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
g.      memandang terapis sebagai model dalam arti bahwa terapi dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif
h. mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri
i.   bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

      3.      Teknik-teknik terapi

Teori eksistensial-hunianistik tidak memiliki teknik-teknik yang ditentukan secara ketat. Prosedur-prosedur konseling bisa diambil dari beberapa teori konseling lainnya. Metode-metode yang berasal dari teori Gestalt dan Analisis Transaksional sering digunakan, dan sejumlah prinsip dan prosedur psikoanalisis bisa diintegrasikan ke dalam teori eksistensial-humanistik. Buku The Search for “Authenticity (1965) dari Bugental adalah sebuah karya lengkap yang mengemukakan konsep-konsep dan prosedur-prosedur psikokonseling eksistensial yang berlandaskan model psikoanalitik. Yang paling dipedulikan oleh konselor eksistensial adalah memahami dunia subyektif si klien agar bisa menolongnya untuk bisa sampai padapemahaman dan pilihan-pilihan baru. Fokusnya adalah pada situasi hidup klien pada saat itu, dan bukan pada menolong klien agar bisa sembuh darisituasi masa lalu (May &Yalom, 1989).
Teknik-teknik yang digunakan dalam konseling eksistensial-humanistik,yaitu:
a.       Penerimaan
b.      Rasa hormat
c.       Memahami
d.      Menentramkan
e.       Memberi dorongan
f.       Pertanyaan terbatas
g.      Memantulkan pernyataan dan perasaan klien
h.      Menunjukan sikap yang mencerminkan ikut mersakan apa yang dirasakan klien
i.        Bersikap mengijinkan untuk apa saja yang bermakna

·         Person Centered Therapy (Rogers)  

      1.      Konsep dasar pandangan Carl Rogers tentang perilaku/kepribadian

Terapi ini disebut juga client-centered therapy (terapi yang berpusat pada pasien) atau terapi nondirektif. Teknik ini pasa awalnya dipakai oleh Carl Rogers (1902-1987) pada tahun 1942. Sejak itu banyak prinsip Rogers yang dipakai dalam terapi diterima secara luas. Tetapi, tekbik jni dipakai secara lebih terbatas pada terapi mahasiswa dan orang-orang dewasa muda lain yang mengalami masalah-masalah penyesuaian diri yang sederhana. Carl Rogers berpendapat bahwa orang-orang memiliki kecenderungan dasar yang mendoring mereka ke arah pertumbuhan dan pemenuhan diri. Dalam pandangan Rogers, gangguan-gangguan psikologis pada umumnya terjadi karena orang-orang lain menghambat individu dalam perjalanan menuju kepada aktualisasi diri.

      2.      Unsur-unsur terapi

a.       Self-concept (konsep diri) mengenai konsepsi seseorang tentang dirinya
b.      Ideal-self (diri ideal) mengenai self-concept yang ingin dimiliki seseorang (seseorang ingin menjadi apa?)
c.       Ketidakselarasan (incongruence) antara diri dan pengalaman, yaitu sesuatu celah yang ada antara self-concept seseorang dan apa yang dialaminya.
d.      Ketidakmampuan menyesuaikan diri secara psikologis, hal ini terjadi bila seseorang menyangkal atau mendistorsikan pengalaman-pengalamannya yang penting.
e.       Keselarasan antara diri dan pengalaman, yaitu konsep seseorang tentang dirinya sendiri sesuai dengan apa yang dialaminya
f.       Kebutuhan akan penghargaan positif (need for positive regard), yaitu kebutuhan untuk dihargai dan dihormati orang lain
g.      Kebutuhan akan harga diri (need for self regard), yaitu kebutuhan untuk menghargai diri sendiri

      3.      Teknik-teknik terapi

Teori belakangan ini tidak berbicara mengenai teknik-teknik nondirektif yang sering dibicarakan dalam literatur terdahulu. Dalam menemukan cara-cara untuk melaksanakan orientasi dasar terapis terhadap pasien, tulisan-tulisan awal menekankan teknik-teknik, seperti menyusun wawancara, diam, menerima dan merefleksikan perasaan-perasaan serta tidak mengadakan respons terhadap isi intelektual. Teknik-teknik terapi lama-kelamaan kurang menekankan sikap-sikap yang memudahkan hubungan pribadi. Beberapa terapis dengan pemahaman yang dangkal terhadap terapi client-centered tidak memahami perubahan penekanan ini. Sering kali mereka menggunakan apa yang disebut teknik-teknik nondirektif untuk menggunakan sikap-sikap yang sangat berbeda dari apa yang dianjurkan oleh teori. Tentu saja terapis person-centered masih menggunakan beberapa teknik (refleksi perasaan-perasaan yang dialami pasien), tetapi dia tidak merasa terikat oleh teknik-teknik tersebut dan dia juga tidak menggunakan teknik-teknik tersebut secara terencana dan hati-hati pada waktu melaksanakan wawancara. Rumusan-rumusan yang lebih awal dari pandangan Rogers tentang psikoterapi memberi penekanan yang lebih besar pada teknik-teknik. Kemudian karena pendekatan person-centered berkembang, maka terjadi peralihan dari penekanan pada teknik-teknik terapeutik ke penekanan pada kepribadian, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap terapis, serta pada hubungan terapeutik. Hubungan terapeutik selanjutnya menjadi variabel yang sangat penting, dan hubungan terapeutik ini tidak identik dengan apa yang dikatakan atau dilakukaan terapis.

·         Logoterapi (Frankl)

      1.      Konsep dasar pandangan Frankl tentang perilaku kepribadian

Logoterapi adalah sebuah teori yang berorientasi untuk menemukan arti, suatu arti dalan dan bagi eksistensi manusia. Disini yang penting adalah menerima tanggung jawab dan berusaha menemukan arti/nilai di balik kehidupan

      2.      Unsur-unsur terapi

a.       Freedom of Will (bebas dari kemauan). Kebebasan yang dimaksud ini adalah suatu kebebasan untuk tetap berdiri/tegak apapun kondisi yang dialami manusia. Bebas dari kemauan bukan berarti bebas dari kondisi-kondisi biologis, fisik, sosiologis dan psikologis. Tapi lebih merupakan bebas untuk mengambil sikap bukan hanya m
b.      Will to meaning, yaitu suatu kemauan untuk menemukan arti hidupnya. Will to meaning ini suatu dorongan kemauan dasar yang berjuang untuk mencapai arti hidup yang lebih tinggi untuk eksis di dunia ini.
c.       The meaning of life yaitu arti hidup bagi seorang manusia. Arti hidup yang diartikan disini adalah arti hidup yang bukan untuk dipertanyakan, tetapi untum direspons, karena kita semua bertanggung jawab untuk suatu hidup. Respons yang diberikan bukan dalam bentuk kata-kata tapi dalam bentuk tindakan, dengan melakukannya

      3.      Teknik-teknik terapi

Frankl dengan logoterapinya tidak hanya menyumbang teori, tetapi juga teknik-teknik terapi yang khusus kepada dunia psikoterapi. Teknik-teknik logoterapi yang terkenal adalah intensi paradoksikal, derefleksi dan bimbingan rohani.
intensi paradoksikal yaitu tingkah laku individu tidak hanya diubah tetapi juga mengacu pada kapasitas individu untuk melepaskan dirinya dari dunia dan dari dirinya sendiri
Derefleksi yaitu pasien tidak hanya dianjurkan untuk mengabaikan simtom-simtom yang dialaminya tetapi juga dianjurkan supaya mengarahkan kesadaran atau perhatiannya pada aspek-aspek yang positif.
Bimbingan rohani yaitu teknik terapi yang secara khusus digunakan untuk menangani kasus dimana individu tidak mampu lagi berbuat sesuati selain hanya menghadapi kesulitan atau penderitaan yang dialaminya. Dalam menghadapi kesulitan atau penderitaan, individu akan menemukan makna dengan merealisasikan nilai bersikap



Sumber :
Semiun, Yustinus. (2006). Kesehatan mental 3. Yogyakarta: Kanisius

Naisaban, Ladislaus. (2004). Para psikolog terkemuka dunia: riwayat hidup, pokok pikiran &                     karya. Jakarta: Grasindo.


Selasa, 22 Maret 2016

Cotoh Kasus Terapi Psikoanalisa Menggunakan Teknik Asosiasi bebas


     Klien seorang perempuan, 26 tahun dengan gangguan skizofrenia paranoid dan diterapi menggunakan pendekatan psikoanalisis dan teknik yang digunakan adalah teknik asosiasi bebas.
Pada sesi I ini terapis dan klien membangun komunikasi yang nyaman dan membangun kepercayaan. Setelah terbentuknya rasa kepercayaan dan dukungan yang lebih besar, terapis mulai mendorong klien untuk mengkaji berbagai hubungan Interpersonalnya. Kemudian klien diminta untuk mengungkapkan apa saja (pikiran dan perasaan) yang terlintas dalam pikirannya saat itu tanpa ada hal-hal yang disensor (moment catarsis). Dan terapis membantu klien untuk menganalisa mengenai hal-hal yang dikatarsiskan. Setelah itu terapis membantu dan membimbing klien untuk bisa insigth. Setelah itu terus menerus menginterpretasikan dan mengidentifikasikan masalah klien. Kemudian berusaha mengajak klien merealisasikan hal-hal yang didapat dari insigth.


     Pada sesi II yaitu teknik asosiasi bebas. Pada sesi ini Klien diminta untuk mengungkapkan apa saja (pikiran dan perasaan) yang terlintas dalam pikirannya saat ini tanpa ada hal yang disensor (katarsis). Terapi membantu klien menganalisa mengenai hal-hal yang dikatarsiskan, kemudian terapis membimbing klien untuk insight, dengan terus-menerus menginterpretasi dan mengidentifikasi masalah klien dan mkemudian mengajak klien merealisasikan hal yang didapatkan dari insight.

Psikoterapi dan Terapi Psikoanalisis

Nama : Natalia Indah Briliani
Kelas  : 3PA14
NPM  : 16513343

Psikoterapi
Pengertian Psikoterapi
            Psikoterapi merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki oleh seorang psikiater. Psikoterapi adalah kata yang meliputi setiap jenis terapi untuk pikiran, bukan untuk bagian tubuh yang lain. Tetapi, ketika sebagian orang mengucapkan  kata itu, biasaya yang mereka maksud adallah terapi yang digunakan oleh para psikiatris dan psikolog, bukan hal-hal yang lebih bersifat alternatif seperti misalnya terapi tertawa atau terapi musik.

Tujuan Psikoterapi
Menurut Ivey (dalam Gunarsa) tahun 1987 mengatakan  Tujuan psikoterapi adalah membuat sesuatu yang tidak saadar menjadi suatu yang disadari. Rekonstruksi kepribadiannya dilakuka terhadap kejadian-kejadian yang sudah lewat dan menyusun sintesis yang baru dari konflik-konflik yang lama. Di sisi lain Corey (dalam Gunarsa) tahun 1991, menjelaskan tujuan psikoterapi dengan pendekatan analisis adalah untuk membantu klien dalam menghidupkan kebali pengalaman-pengalaman yang sudah lewat dan bekerja melalui konflik-konflik yang ditekan melalui pemahaman intelektual. Sedangkan menurut Guze, Richeimer dan Siegel (1997) menyebutkan psikoterapi sebagai berikut:
1.      Perawatan akut (intervensi krisis dan stabilisasi)
2.      Rehabilitasi (memperbaiki gangguan perilaku berat)
3.      Pemeliharaan (pencegahan keadaan memburuk jangka panjang)
4.      Restrukturisasi  eningkatkan perubahan yang terus-menerus pada klien)

Unsur-unsur Psikoterapi
Menurut Masserman (dalam Guze, Richeimer dan Siegel) ada tujuh “parameter pengaruh” yang mencakup unsur-unsur lazim pada semua jenis psikoterapi, yaitu:
  1. Peran sosial (martabat) psikoterapis
  2. Hubungan (persekutuan terapeutik)
  3. Hak
  4. Retrospreksi
  5. Re-edukasi
  6. Rehabilitasi
  7. Resosialisasi dan rekapitulasi
Unsur-unsur psikoterapeutik dapat dipilih untuk masing-masing pasien dan dimodifikasi dengan berlanjutnya terapi.

Perbedaan antara Psikoterapi dan Konseling
Brammer & Shostrom (dalam) mengemukakan bahwa konseling ditandai oleh adanya terminologi seperti: “educational, voational, supportive, situational, problem solving, conscious awareness, normal, present-time dan  short-term”. Sedangkan psikoterapi ditandai oleh: “supportive [dalam keadaan krisis], reconstructive, depth emphasis, analytical, focus on the past, neurotics and other severe emotional problems and long term”.
Di sisi lain Pallone dan Patterson (dalam Gunarsa) membedaka Konseling dan Psikoterapi sbb:
Konseling untuk
Psikoterapi untuk
1.      Klien
1.      Pasien
2.      Gangguan yang kurang serius
2. Gangguan yang serius
3.      Masalah: jabatan, pendidikan
3. Masalah kepribadian & pengambilan        keputusan
4.      Berhubungan dengan pencegahan
4. Berhubungan dengan penyembuhan
5.      Lingkungan pendidikan dan nonmedis
5. Lingkungan medis
6.      Berhubungan dengan kesadaran
6. Berhubungan dengan ketidak sadaran
7.      Metode pendidikan
7. Metode penyembuhan


Pendekatan Psikoterapi Terhadap Mental Illness
Pendekatan psikoterapi terhadap mental illness menurut J.P. Chaplin, yaitu:
1.      Biological
Meliputi keadaan mental organik, penyakit afektif, psikosis dan penyalahgunaan zat. Menurut Dr. John Grey, Psikiater Amerika (1854) pendekatan ini lebih manusiawi. Pendapat yang berkembang waktu itu adalah penyakit mental disebabkan karena kurangnya insulin.
2.      Psychological
Meliputi suatu peristiwa pencetus dan efeknya terhadap perfungsian yang buruk, sekuel pasca-traumatic, kesedihan yang tak terselesaikan, krisis perkembangan, gangguan pikiran dan respon emosional penuh stres yang ditimbulkan. Selain itu pendekatan ini juga meliputi pengaruh sosial, ketidakmampuan individu berinteraksi dengan lingkungan dan hambatan pertumbuhan sepanjang hidup individu.
3.      Sosiological
Meliputi kesukaran pada sistem dukungan sosial, makna sosial atau budaya dari gejala dan masalah keluarga. Dalam pendekatan ini harus mempertimbangkan pengaruh proses-proses sosialisasi yang berlatarbelakangkan kondisi sosio-budaya tertentu.
4.      Philosophic
Kepercayaan terhadap martabat dan harga diri seseorang dan kebebasan diri seseorang untuk menentukan nilai dan keinginannya. Dalam pendekatan ini dasar falsafahnya tetap ada, yakni menghagai sistem nilai yang dimiliki oleh klien, sehingga tidak ada istilah keharusan atau pemaksaan.

Psikoanalisis

Konsep dasar teori psikoanalisis tentang kepribadian

Dalam hubungan terapeutik, Sigmund Freud mengamati bahwa kata-kata yang diucapkan oleh bayak pasiennya tidak logis, orientasinya mengenai waktu dan tempat tidak tepat, serta ”tidak sebagaimana mestinya”. Jelas bagi Freu bahwa isi pikiran tidak mungkin berasal dari kesadaran, tetapi harus berasal dari tingkat-tingkat mental dibawah alam sadar. Ia menyimpulkan bahwa ada tiga macam kegiatan mental: ketidaksadaran (alam tak sadar), keprasadaran (alam prasadar), dan kesadaran (alam sadar). Dalam psikologi Freud, tiga tingkat kehidupan mental digunakan untuk menunjukkan baik proses maupun tempat. Adanya tempat itu hanya merupakan gagasan hipotesis dan dalam kenyataan tidak ada dalam tubuh.
            Ketidaksadaran berupa sikap-sikap, perasaan-perasaan dan pikiran-pikiran yang ditekan, serta tidak dapat dikontrol oleh kemauan, hanya dengan susah payah ditarik – kalau dapat – ke alam sadar, tidak terikat oleh huku-hukum logika dan tidak dibatasi oleh waktu dan tempat. Isi dari ketidaksadaran ini mengontrol pikiran dan perbuatan sadar individu. Dari pandangan ini, psikologi yang membatasi diri pada analisis kesadaran sama sekali tidak cocok untuk memahami motif-motif yang mendasari tingkah laku manusia.

Unsur-unsur Terapi Psikoanalisis
1.      Muncul Gangguan
Psikoterapi berupaya untuk memunculkan penyebab masalah atau gangguan itu muncul melalui intervensi yang ditinjau dari lingkungan, kepribadian, faktor ekonomi, afeksi, komunikasi interpesonal dan lain sebagainya. Dengan usaha lebih mengenal penyebab gangguan itu muncul klien dapat memperkuat diri agar terhindar dari resiko yang tinggi dengan modifikasi interaksi terhdap lingkungannya.
2.      Tujuan Terapi
Membentuk kembali struktur karakter individu dengan jalan membuat kesadaran yang tak disadari didalam diri klien   Focus pada upaya mengalami kembali pengalaman masa anak-anak.
3.      Peran Terapi
·         Membantu klien dalam mencapai kesadaran diri, kejujuran, keefektifan dalam melakukan hubungan personal dalam menangani kecemasan secara realistis
·         Membangun hubungan kerja dengan klien, dengan banyak mendengar dan menafsirkan
·         Terapis memberikan perhatian khusus pada penolakan klien
·         Mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien

Teknik-teknik Terapi Psikoanalisis

1. Asosiasi Bebas

Teknik utama terapi psikoanalitik adalah asosiasi bebas. Disini klien diminta melaporkan segera tanpa ada yang disembunyikan, klien terhanyut bersama segala perasaan dan pikirannya. Klien diminta untuk mengatakan segala sesuatu yang muncul dalam kesadarannya, seperti pikiran, harapan, dan lain-lain, walaupun kelihatannya hal-hal tersebut tidak penting, tidak logis, menyakitkan, ataupun menggelikan. Freud memikirkan bahwa asosiasi bebas ini ditentukan oleh suatu sebab, bukan hal yang acak. Tugas analislah untuk melacak asosiasi ini sampai kesumbernya dan mengidentifikasi suatu pola sebenarnya yang tadinya hanya terlihat sebagai rangkaian kata yang tidak pasti. Terlepasnya emosi yang kuat, yang selama ini ditekan pada situasi terapeutik inipun kemudian disebut sebagai katarsis.

2. Penafsiran
Penafsiran adalah suatu prosedur dasar dalam meganalisis asosiasi bebas, mimpi-mimpi, resistensi-resistensi dan tranferensi-transferensi. Prosedurnnya terdiri atas tindakan-tindakan analisis yang menyatakan, menerangkan, bahkan mengajari klien makna-makna tingkah laku yang dimanifestasikan oleh mimpi-mimpi, asosiasi bebas, resistensi-resistensi, dan oleh hubungan terapeutik itu sendiri. Fungsi penafsiran adalah mendorong ego untuk mengasimilasi bahan-bahan baru dan mempercepat penyingkapan bahan tak sadar lebih lanjut. Penafsiran-penafsiran analisis menyebabkan pemahaman dan tidak terhalangi bahan tak sadar pada pihak klien.

3. Analisis Mimpi
Analisis mimpi adalah sebuah prosedur yang penting untuk menyingkap bahan yang tak disadari dan memberikan kepada klien pemahaman atas beberapa area masalah yang tidak terselesaikan. Freud memandang mimpi-mimpi sebagai “jalan mengistimewa menuju ketaksadaran”, sebab melalui mimpi-mimpi itu hasrat-hasrat, kebutuhan-kebutuhan, dan ketakutan-ketakutan yang tak disadari, diungkapkan.

4. Analisis dan penafsiran resistensi
Resistensi merupakan sebuah konsep yang fundamental dalam praktek psikoanalitik adalah sesuatu yang melawan kelangsungan terapi dan mencegah klien mengemukakan bahan yang tak disadari. Sebagai pertahanan terhadap kecemasan, resistensi bekerja secara khas dalam terapi psikoanalitik dengan menghambat klien dan analis dalam melaksanakan usaha bersama untuk memperoleh pemahaman atas dinamika-dinamika ketaksadaran klien.

5. Analisis dan penafsiran transferensi
Sama hal nya dengan resistensi, transferensi merupakan inti dari terapi psikoanalitik. Analisis transferensi yang utama dalam psikoanalisis, sebab mendorong klien untuk menghidupkan kembali masa lampaunya dalam terapi. Transference adalah saat pasien mengembangkan reaksi emosional keterapis. Hal ini bisa saja dikarenakan pasien mengidentifikasi terapis sebagai seseorang dimasa lalunya, misalnya orang tua atau kekasih. Disebut positive transference apabila perasaan itu adalah perasaan saying atau kekaguman, serta negative transference apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.




Sumber :
1.      Setyonegoro, Kusuanto. (2011). Memanusiakan manusia menata jiwa membangun bangsa. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.
2.      Morgan, Nicola. (2014). Pandua mengatasi stres bagi remaja. Jakarta: Gemilang
3.      Gunarsa, G., Singgih. (2007). Konseling dan psikoterapi. Jakarta: Gunung Mulia.
4.      Guze, Barry., Richeimer, Steven., dan Siegel, J, Daniel. (1997). Buku saku psikiatri. Jakarta: EGC
5.      Semiun, Yustinus. (2006). Teori kepribadian dan terapi psikoanalitik freud. Yogyakarta: Kanisius
6.      Freud,S.(2006), Teori Kepribadian Dan Terapi Psikoanalitik Freud.Yogyakarta: Kanisius.



Senin, 28 Desember 2015

Psikologi Manajemen Tugas IV

v Komunikasi dalam Manajemen
1.      Pengertian Komunikasi
Meurut Kozier dan Erb (dalam Nugroho, 2009) komunikasi adalah pertukaran informasi antar dua orang atau lebih, atau pertukaran ide, perasaan, dan pikiran. Pendapat lain dikemukakan oleh Gode (dalam Wiryanto, 2004) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses yang membuat kebersamaan bagi dua orang atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang. Trenholm dan Jensen (dalam Wiryanto, 2004) mendefinisikan komunikasi sebagai suatu proses dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran. Hoveland (dalam Wiryanto, 2004) mengatakan komunikasi adalah proses dimana individu mentransmisikan stimulus untuk mengubah perilaku individu yang lain.
Dari definisi beberapa tokoh di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi adalah pertukaran informasi antara dua orang atau lebih yang membuat kebersamaan bagi dua orang atau lebih yang semula monopoli oleh satu atau beberapa orang dimana sumber mentransmisikan pesan kepada penerima melalui beragam saluran untuk mengubah perilaku individu yang lain.
2.      Proses Komunikasi
Wiryanto mengemukakan bahwa proses komunikasi merupakan aktivitas mendasar bagi manusia sebagai makhluk sosial. Setiap proses komunikasi diawali dengan adanya stimulus yang masuk pada diri individu yang di tangkap melalui panca indera. Stimulus diolah di otak dengan pengetahuan, pengalaman, selera dan iman yang dimiliki individu. Stimulus tersebut mengalami proses intelektual menjadi informasi. Adapun informasi yang telah dikomunikasikan disebut sebagai pesan.
3.      Hambatan Komunikasi
Menurut Robbins (dalam Haryadi, 2009) ada 4 hambatan komunikasi, yaitu :
a.       Perbedaan Bahasa dan Persepsi
Bahasa sangat penting dalam komunikasi, bahasa bertujuan untuk menyamakan persepsi dan mentransfer informasi.
b.      Gangguan Komunikasi
Ada 2 macam gangguan komunikasi, yaitu:
1)       Gangguan emosional, yaitu Pesan akan sulit disamapaikan dalam keadaan kecewa, marah, atau takut. Hal ini lah yang menyebabkan gagasan dan perasaan sering menyulitkan dalam bersikap objektif.
2)      Gangguan fisik, yaitu hubungan yang buruk, akustik yang jelek, dan tulisan yang tidak dapat dibaca. Walaupun gangguan ini terlihat sepele namun dapat menghambat pesan yang sebenarnya efektif.
c.       Overload Informasi
Yaitu hambatan yang ada karena terlalu banyak informasi yang didapat, komunikasi dapat terganggu karena materi dari informasi tersebut sangat rumit dan controversial.
d.      Penyaringan Informasi yang tidak Tepat
Menyaring informasi dapat mempengaruhi jumlah dan mutu informasi yang diteruskan, dan tentunya akan memengaruhi komunikasi efektif yang di harapkan.
v  Definisi Komunikasi Intrapersonal Efektif dalam Organisasi yang Mencakup Componential dan Situasional
1.      Componential
Menjelaskan komunikasi antar pribadi dengan mengamati komponen-komponen utamanya, dalam hal ini adalah penyampaian pesan oleh satu orang dan penerimaan pesan oleh orang lain dengan berbagai dampaknya dan dengan peluang untuk memberikan umpan balik dengan segera.
2.      Situasional
Interaksi tatap muka antara dua orang dengan potensi umpan balik langsung dengan situasi yang mendukung disekitarnya.

v Model Pengolahan Informasi
1.      Rational
Model ini berasumsi bahwa orang beroperasi dalam mode pengolahan dikontrol menggunakan prosedur analitis
2.      Limited Capacity
Model ini menunjukkan bagaimana orang menyederhanakan pengolahan informasi
3.      Expert
Model ini bergantung pada model Limited Capacity
4.      Cybernetic
Model ini berpendapat bahwa informasi diproses dari waktu ke waktu.

v  Model Interaktif Manajemen
1.      Confidence
Dalam manajemen timbulnya suatu interaksi karena adanya rasa nyaman. Kenyamanan tersebut dapat membuat suatu organisasi bertahan lama dan menimbulkan suatu kepercayaan dan pengertian.
2.      Immediacy
Ini adalah model organisasi yang membuat suatu organisasi tersebut menjadi segar dan tidak membosankan
3.      Interaction management
Adanya berbagai interaksi dalam manajemen seperti mendengarkan dan juga menjelaskan kepada berbagai pihak yang bersangkutan
4.      Expressiveness
Mengembangkan suatu komitmen dalam suatu organisasi dengan berbagai macam ekspresi perilaku.
5.      Other-orientation
Dalam hal ini suatu manajemen organisasi berorientasi pada pegawai.




Sumber:
Haris, T, E. (2002). Applied organizational communication. New York: Psychology Press
Haryadi, H. (2009). Administrasi perkantoran untuk manajer & staff. Jakarta: Transmedia Pustaka
Nugroho, W. (2009). Komunikasi dalam keperawatan gerontik. Jakarta: EGC.
Suranto. (2011). Komunikasi interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu
Wiryanto. (2004). Pengantar ilmu komunikasi. Jakarta: Grasindo.